Kamis (07/05/2026) MAN Kota Mojokerto mengadakan sosialisasi P3LP (Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologi) dan penyuluhan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa kelas 10 dan 11 di Aula MAN Kota Mojokerto. Sosialisasi ini mendatangkan seorang spesialis penanganan kesehatan mental, Nasmi, sebagai pemateri pertama, dan Ressa, dokter dari Puskesmas Blooto sebagai pemateri kedua.
Terdapat 3 prinsip P3LP, yakni memperhatikan, mendengarkan, dan menghubungkan. Dalam praktek penanganan P3LP, sebagai seorang penolong pertama (First Aider), harus mengutamakan kenyamanan yang ditolong (Helpee). “Nyaman itu bukan nyamannya persepsi kalian, namun nyaman yang dimaksud adalah nyaman bagi orang yang kalian tolong. Termasuk juga tidak memaksa mereka untuk memberi tahu masalah mereka, berikan mereka waktu, dan utamakan tempat yang bagi mereka nyaman apabila mereka mulai terbuka pada kalian,” jelas Nasmi.
“Efek NAPZA bisa bermacam-macam, mulai dari menjadi terlalu kegirangan atau yang disebut uppers, ada juga yang merasa lemah letih lesu atau downers, dan ada juga yang bahkan merasakan keduanya,” ungkap Ressa. Kebanyakan kasus penyalahgunaan NAPZA adalah coba-coba atau iseng. Beberapa kasus juga disebabkan karena ingin mencari ketenangan semata, terbawa lingkungan, dan berbagai tekanan mental lainnya.
Pada akhirnya, isu tentang kesehatan mental dan kasus penyalahgunaan NAPZA merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain. Dengan adanya sosialisasi ini, para siswa diharapkan dapat lebih waspada, baik terhadap lingkungan sekitar maupun terhadap diri sendiri. Menjaga kesehatan mental merupakan prioritas utama, dan melakukan penanganan lebih lanjut dengan tepat juga hal yang diperlukan sehingga masyarakat, khususnya para remaja tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif. (jurnalis MANTA)











