Humas — Bagaimana jika musik yang selama ini dinikmati melalui pendengaran bisa tetap “dirasakan” oleh penyandang tunarungu? Pertanyaan itulah yang coba dijawab dua siswi MAN Kota Mojokerto melalui sebuah gagasan teknologi asistif bernama HAPTIC-BEAT.
Gagasan tersebut bukan sekadar berhenti sebagai konsep. Melalui ajang Business Plan EXTRANAS (Expo Nasional dan Rapat Kerja Kepala dan Guru Madrasah Aliyah Plus Keterampilan Nasional) ke-8 yang digelar di Lamongan pada 10–12 September 2026, HAPTIC-BEAT berhasil mengantarkan Arini Fadlillah Fitriani siswi kelas XII F-2 dan Tertia Inggrid Candraningtyas, kelas XII F-3, meraih Juara 2.
HAPTIC-BEAT merupakan inovasi perangkat wearable pengonversi frekuensi musik yang dirancang untuk membantu penyandang tunarungu mengakses pengalaman audio melalui teknologi asistif. Gagasan tersebut membawa misi untuk menembus batas aksesibilitas audio, sehingga keterbatasan pendengaran tidak menjadi penghalang untuk merasakan pengalaman bermusik.
Dalam kompetisi Business Plan, Arini dan Tertia tidak hanya dituntut memiliki gagasan yang inovatif. Keduanya juga harus mampu mengemas HAPTIC-BEAT sebagai sebuah konsep bisnis yang memiliki nilai manfaat sekaligus potensi pengembangan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan peserta didik MAN Kota Mojokerto dalam memadukan teknologi, kreativitas, kepedulian sosial, dan jiwa kewirausahaan dalam satu gagasan. Sebuah inovasi yang berangkat dari persoalan aksesibilitas kemudian dikembangkan menjadi konsep bisnis yang kompetitif.
Ajang Business Plan menjadi salah satu bagian dari rangkaian EXTRANAS (Expo Nasional dan Rapat Kerja Kepala dan Guru Madrasah Aliyah Plus Keterampilan Nasional) ke-8 yang berlangsung selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, di Lamongan. Dalam ajang tersebut, peserta dari berbagai madrasah berkesempatan menguji kreativitas dan kemampuan mereka dalam mengembangkan berbagai gagasan inovatif.
Bagi MAN Kota Mojokerto, capaian Arini dan Tertia sekaligus memperkuat peran madrasah sebagai ruang tumbuh bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Terlebih, sebagai madrasah keterampilan, MAN Kota Mojokerto terus mendorong peserta didik untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prestasi Juara 2 Business Plan EXTRANAS 2026 menjadi bukti bahwa gagasan besar bisa lahir dari ruang belajar madrasah. Melalui HAPTIC-BEAT, Arini dan Tertia menunjukkan bahwa teknologi tidak semestinya hanya membuat hidup lebih mudah, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi mereka yang selama ini memiliki keterbatasan.
Dua siswi, satu gagasan, dan sebuah pesan penting: keterbatasan bukan alasan untuk membatasi akses terhadap pengalaman dan kesempatan. (Tim Humas)










